Malam Tahun Baru identik dengan pesta! Duh rasanya jika hal tersebut ditelaah sungguh kurang bijak ya, bagaimana tidak, orang di setiap akhir tahun dan awal tahun ini, usia kita sudah dikurangi eh ternyata kita rayakan dengan kegembiraan, yang kadangkala berlebihan banget.
Seharusnya malam tahun baru kita jadikan sebagai ajang untuk introspeksi atas segala laku yang sudah kita lakukan sepanjang tahun kemarin dan menyusun rencana untuk perjalanan panjang di tahun ke depan.
Semalam,seusai sholat Isya', lingkungan RT tempatku tinggal mengadakan sedikit tasyakuran yangd iarahkan untuk ungkapan syuklur pada Tuhan setelah kami menyelesaikan perjalanan di tahun 2008 dan berharap Tuhan terus memberikan kesempatan sebaik-baiknya pada kami di tahun 2009. semoga! dan pasti!
Rabu, 31 Desember 2008
Sabtu, 13 Desember 2008
Gembongan yang selalu damai
Ada satu hal yang setiap saat selalu menjadi bahan pemikiran di hatiku, terkait dengan kondisidesa yang kuhadapi.bukan apa-apa, aku hanya berpikir mengapa desaku nampaknya statis, monoton saja?
Ketenangan desaku memang cukup membuat kehidupan warganya pada zona nyaman. Tidak ada warga desa yang secara mencolok sangat kekurangan. Mereka hidup pada tingkatan ekonomi rata-rata dan didukung oleh kebiasaan untuk saling membantu sehingga tidak nampak adanya warga yang mengalami kesulitan hidup.
Setiap warga yang mempunyai kelebihan harta selalu ikut memikirkan cara mengangkat kualitas kehdupan saudaranya. Hidup dalam kesetiakawanan adalah pola tersistem yang sudah mengakar sebagaimana adat istiadat yang menjadai dasar kehidupan nyata.
Kegotongroyongan adalah system kemasyarakatan yang sudah sejak dahulu menjadi pola kehidupan dan tidak mungkin terhapuskan atau tersapu oleh aliran kemajuan jaman yang mengglobal. Kehidupan di desa adalah akar pondasi bagi kehidupan masa depan.
Desa adalah masa depan yang paling hakiki. Kota hanyalah sebuah terminal dimana semua kendaraan, semua orang singgah, duduk, minum kopi dan selanjutnya pergi lagi. Tetapi,desa adalah sesungguhnya masa depan negeri ini. sebab yang dapat berkembang untuk menuju ke masa depan hanyalah desa. Kota sudah sampai pada titik kulminasinya!
Desaku Gembongan, telah sangat tua jika dibandingkan desa-desa lainnya. Tentunya lebih tua desaku daripada nenek, kakek, ayah dan ibu, apalagi aku! Dan, desaku dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah memberikan harapan masa depan yang begitu besar bagi semuanya, termasuk negeri yang besar ini. Tanpa desa, maka kota tidak akan tumbuh berkembang. Tak ada pembangunan masa depan. Tak ada perkembangan mental spriritual warganya.
Negara sebenarnya sangat tergantung pada desa-desa yang terpencil, sebab disanalah sebenarnya nilai-nilai besar para leluhur tumbuh berkembang untuk menjaga eksistensi bangsanya. Dan, kota yang menjadi perusak utamanya!
Aku sungguh sangat bahagia hidup di desa. Rumahku ada di sebelah rumah keluarga besarku. Kubangun dalam enam tahun berturut-turut sebab aku harus menabung sedikit demi sedikit. Sedangkan aku bekerja di kota dan hal tersebut sungguh sangat menyenangkan. Hidup di desa, bekerja di kota.
Kota memang hanya bagus untuk dijadikan sebagai tempat mencari uang! Mengumpulkan banyak uang dari sudut-sudut kota dan selanjutnya membawa-nya pulang ke desa untuk membangun sudut-sudut desaku.
Desaku sungguh sangat indah dan nyaman!
Ketenangan desaku memang cukup membuat kehidupan warganya pada zona nyaman. Tidak ada warga desa yang secara mencolok sangat kekurangan. Mereka hidup pada tingkatan ekonomi rata-rata dan didukung oleh kebiasaan untuk saling membantu sehingga tidak nampak adanya warga yang mengalami kesulitan hidup.
Setiap warga yang mempunyai kelebihan harta selalu ikut memikirkan cara mengangkat kualitas kehdupan saudaranya. Hidup dalam kesetiakawanan adalah pola tersistem yang sudah mengakar sebagaimana adat istiadat yang menjadai dasar kehidupan nyata.
Kegotongroyongan adalah system kemasyarakatan yang sudah sejak dahulu menjadi pola kehidupan dan tidak mungkin terhapuskan atau tersapu oleh aliran kemajuan jaman yang mengglobal. Kehidupan di desa adalah akar pondasi bagi kehidupan masa depan.
Desa adalah masa depan yang paling hakiki. Kota hanyalah sebuah terminal dimana semua kendaraan, semua orang singgah, duduk, minum kopi dan selanjutnya pergi lagi. Tetapi,desa adalah sesungguhnya masa depan negeri ini. sebab yang dapat berkembang untuk menuju ke masa depan hanyalah desa. Kota sudah sampai pada titik kulminasinya!
Desaku Gembongan, telah sangat tua jika dibandingkan desa-desa lainnya. Tentunya lebih tua desaku daripada nenek, kakek, ayah dan ibu, apalagi aku! Dan, desaku dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah memberikan harapan masa depan yang begitu besar bagi semuanya, termasuk negeri yang besar ini. Tanpa desa, maka kota tidak akan tumbuh berkembang. Tak ada pembangunan masa depan. Tak ada perkembangan mental spriritual warganya.
Negara sebenarnya sangat tergantung pada desa-desa yang terpencil, sebab disanalah sebenarnya nilai-nilai besar para leluhur tumbuh berkembang untuk menjaga eksistensi bangsanya. Dan, kota yang menjadi perusak utamanya!
Aku sungguh sangat bahagia hidup di desa. Rumahku ada di sebelah rumah keluarga besarku. Kubangun dalam enam tahun berturut-turut sebab aku harus menabung sedikit demi sedikit. Sedangkan aku bekerja di kota dan hal tersebut sungguh sangat menyenangkan. Hidup di desa, bekerja di kota.
Kota memang hanya bagus untuk dijadikan sebagai tempat mencari uang! Mengumpulkan banyak uang dari sudut-sudut kota dan selanjutnya membawa-nya pulang ke desa untuk membangun sudut-sudut desaku.
Desaku sungguh sangat indah dan nyaman!
Selasa, 09 Desember 2008
Gembongan Desaku Nan Permai
Kemarin hari saat hujan deras mengguyur Desaku, Gembongan, Anak-anak, termausk para orangtua sebayaku, berbareng, beranmai-ramai pergi ke sungai Brantas yang mengalir di sebelah selkatan desaku.
Sungai yang dhaulukala, konon dapat dipakai sebagai sarana transportasi, serkarang nampaknya sangat menyedihkan bagi kita semua. Sungai tersebut sekarang tinggal sempit. Airnya tidak lagi menakutkan sebagaimana saat aku masih kecil dulu, sehingga ada satu temanku yang tenggelam saat berenang di sungai tersbeut.
Saat hujan masih gerimis, kami berlarian menuju ke kubangan besar yang tercipta di pinggiran sungai berantas. Di sana banyak sekali ikan, dari mulai ikan wader, lele, sampai mujair ada di sana. Teman-tyeman memberikan sedikit obvat di sungbai tersebut.
Mak, kamipun pesta ikan mabuk!
Lumayan juga mencari ikan mabuk, setidaknya ada reuni masa lalu!
Desaku memang banyak memebrikan kemungkinan untuk kebahagiaan bagi kami para penghuninya, anak-anaknya.
Dan, air hujan yang mengguyur badan terasa bagaikan hangatnya kasih sayang ibunda tertcinta.
Sungai yang dhaulukala, konon dapat dipakai sebagai sarana transportasi, serkarang nampaknya sangat menyedihkan bagi kita semua. Sungai tersebut sekarang tinggal sempit. Airnya tidak lagi menakutkan sebagaimana saat aku masih kecil dulu, sehingga ada satu temanku yang tenggelam saat berenang di sungai tersbeut.
Saat hujan masih gerimis, kami berlarian menuju ke kubangan besar yang tercipta di pinggiran sungai berantas. Di sana banyak sekali ikan, dari mulai ikan wader, lele, sampai mujair ada di sana. Teman-tyeman memberikan sedikit obvat di sungbai tersebut.
Mak, kamipun pesta ikan mabuk!
Lumayan juga mencari ikan mabuk, setidaknya ada reuni masa lalu!
Desaku memang banyak memebrikan kemungkinan untuk kebahagiaan bagi kami para penghuninya, anak-anaknya.
Dan, air hujan yang mengguyur badan terasa bagaikan hangatnya kasih sayang ibunda tertcinta.
Senin, 10 November 2008
Aku BAhagia di Desaku Tercinta
Hidup di kampung halaman merupakan satu kebahagiaan yang tdiak terkira bagi setiap orang. Ada pepatah mengatakan bahwa sebaik-baiknya hujan emas di negeri orang, akan lebih baik hujan batu di negeri sendiri. He...he..... Tnetunya hal ini hanyalah sebuah slogan, apa enaknya hujan batu?! Tetapi setidaknya kita menjadi tahu bahwa bersenang-senang di negeri orang itu tidak ada bahagia yang hakiki dibandingkan dengan kebahagiaan yang terjadi dan dialami di negeri sendiri, walaupun kualitas dan kuantitas kebahagiaann sedikit.
He....he....Aku sangat bangga denga desaku, sebab di desa ini aku lahir, di desa ini aku besar bersama teman-teman yang sekarang sudah entah kemana! Tetapi kau tetap bertahan untuk tetap berada di desaku, yang indah dan nyaman!
Maka, akan kubangun desa dengan temana-teman yan setia pada desaku dan kuharap teman-teman yang berada jauh di seberang atau tempat yang jauh masih mau memikirkan bagaimana mengembangkan desa tercinta ini!
He....he....Aku sangat bangga denga desaku, sebab di desa ini aku lahir, di desa ini aku besar bersama teman-teman yang sekarang sudah entah kemana! Tetapi kau tetap bertahan untuk tetap berada di desaku, yang indah dan nyaman!
Maka, akan kubangun desa dengan temana-teman yan setia pada desaku dan kuharap teman-teman yang berada jauh di seberang atau tempat yang jauh masih mau memikirkan bagaimana mengembangkan desa tercinta ini!
Sabtu, 08 November 2008
Musholaku Membutuhkan Bantuan Dana Rehabilitasi
Mushola di lingkungan rumahku, Desa Gembongan RW VIII, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojoketro, Sudah hampir tiga tahun ini menjalani proses rehabilitasi dengan mengandalkan dana dari donatur warga setempat, selanjutnya mulai tahun ini mencoba untuk mencari dana dari donatur di luar lingkungan sendiri. Sampai sekarang, proses rehabilitas tersebut masih belum tuntas dan membutuhkan bantuan dari khalayak. Di sini, aku berharap banget ada teman-teman yang mempunyai kelonggaran rejeki dan emberikan sedikit bantuan bagi proses rehabilitas mushola ini. Aku tunggu dengan sangat. Semoga amal kita mendapatkan balasan yang maksimal dari Tuhan
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
Kami sangat berharap pada semua sahabat, dermawan agar sedikit menyisihkan dermanya untuk membantu Panitia Rehabilitasi Mushola Baitul Makmur di RW VIII Desa Gembongan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten MOjokerto, Propinsi Jawa Timur
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
Kami sangat berharap pada semua sahabat, dermawan agar sedikit menyisihkan dermanya untuk membantu Panitia Rehabilitasi Mushola Baitul Makmur di RW VIII Desa Gembongan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten MOjokerto, Propinsi Jawa Timur
Jumat, 24 Oktober 2008
Gembongan Juga Panas
Rasanya, perubahan iklim yang disebabkan oleh pergeseran posisi matahari terhadap garis lintang dan bujur menjadikan bumi belahan selatan terasa begitu panasnya. Begitu juga yang dialami oleh Desa tercinta, Gembongan.
Desa yang selama ini kurasakan begitu nyaman, pada hari-hari terakhir terasa begitu panas. Udaranya menyengat, matahari juga begitu. tidak heran jika setiap hari rasanya gerah dan tidak betah berbaju!
Tetapi, setidaknya hal tersebut tidak menjadikan kepanasan di dalam hati sebab pola kehidupan di desaku termasuk nyaman.
Desa yang selama ini kurasakan begitu nyaman, pada hari-hari terakhir terasa begitu panas. Udaranya menyengat, matahari juga begitu. tidak heran jika setiap hari rasanya gerah dan tidak betah berbaju!
Tetapi, setidaknya hal tersebut tidak menjadikan kepanasan di dalam hati sebab pola kehidupan di desaku termasuk nyaman.
Minggu, 05 Oktober 2008
Lebaran yang Berbahagia
Seperti biasanya, jika Lebaran datang, maka seluruh penduduk keluar rumah untuk bersilahturahmi dengan para saudara, tetangga dan semua orang yang ditemukan dalam perjalanan.
Desa menjadi ramai dan hidup. Setelah sejak Subuh mereka sibuk mempersiapkan diri untuk mendirikan sholat Ied di masjid desa yang begitu megah. Sholat Ied yang diselenggarakan setiap tahunnya mengalami perubahan, semakin membludhak sehingga tidak hanya bagian dalam. halaman, bahkan jalan di depan masjid penuh dengan jemaah yang melaksanakan sholat Ied.
Setelah sholat Ied selesai, maka secara serempak mereka saling berjabatan tangan untuk memohon maaf dan memaafkan teman, saudara dan tetangga. para pemimpin meminta maaf,rakyat emmberi maaf. Rakyat meminta maaf, pemimpin memberi maaf.
Selamat Hari Raya Iedhul Fitri, minal aidzin wal Faidzin!
Desa menjadi ramai dan hidup. Setelah sejak Subuh mereka sibuk mempersiapkan diri untuk mendirikan sholat Ied di masjid desa yang begitu megah. Sholat Ied yang diselenggarakan setiap tahunnya mengalami perubahan, semakin membludhak sehingga tidak hanya bagian dalam. halaman, bahkan jalan di depan masjid penuh dengan jemaah yang melaksanakan sholat Ied.
Setelah sholat Ied selesai, maka secara serempak mereka saling berjabatan tangan untuk memohon maaf dan memaafkan teman, saudara dan tetangga. para pemimpin meminta maaf,rakyat emmberi maaf. Rakyat meminta maaf, pemimpin memberi maaf.
Selamat Hari Raya Iedhul Fitri, minal aidzin wal Faidzin!
Jumat, 05 September 2008
Desa Gembongan Tercinta
Aku dilahirkan di Desa Gembongan Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto. Saat itu kata ibuku adalah saat dimana diberbagai tempat khususnya dialiran sungai yang melintas di desaku, sungai Brantas banyak sekali mayat yang mengapung akibat perlakuan tidak bertanggungjawab dari orang-orang yang kecewa.
Negeri ini sedang goncang. Pemerintah sedang dilandah kegelisahan akibat banyaknya pimpinan yang terbunuh dalam sebuah insiden yang selanjutnya dinamakan G30S/PKI. AKu dilahirkan di jaman tersebut. Maka salah satu alasan mengapa namaku paling belakang menggunakan kata Ni adalah untuk mengenang Jenderal Achmad Yani.
Saat usiaku tujuh tahun, saat itu aku juga diukur dengan cara memegang daun telinga kiri dengan tangan kanan, aku masuk ke sekolah dasar di Desa gembongan tercinta. Aku termasuk anak yang mungil saat itu. Tubuhku kecil tidak sebagaimana teman-temanku lainnya, maklum aku anak ke enam dari tujuh bersaudara sehingga kebutuhan makan jelas dapat kita bayangkan. Tetapi hal tersebut tidak menjadikan penghalang bagi kami untuk mengembangkan diri, kemampuan dan keterampilan. Maka, kami bertujuh semuanya tetap bersekolah waLaupun dengan kondisi ekonomi yang serba kurang. Rata-rata saat tersebut kondisi masyarakat memang sangat memprihatinkan, sehingga banyak anak yang tidak dapat melanjutkan sekolah/pendidikan hanya karena ketiadaan biaya untuk hal tersebut. Banyak orangtua yang lebih mengutamakan isi perut daripada pendidikan anak-anaknya, apalagi anak mereka rata-rata cukup banyak, lebih dari empat orang anak setia keluarga!
Sekolah dasar kutempuh selama enam tahun setengah, enam tahun setengah sebab pada saat tersebut ada kebijakan dari menteri pendidikan untk memperpanjang waktu belajar hingga tahaun pelajaran berakhir pada bulan juli, hingga sekarang. Sebelumnya sekolah berakhir pada bulan desember sehingga setiap tahun baru, maka berarti tahun sekolah baru.
Sekolah di desa sendiri membeirkan aku banyak kebahagiaan, apalagi desa Gembongan memang termasuk desa yang asri banget. Alamnya begitu indah. Pepohonannya banyak dan rindang. Tidak heran jika banyak burung yang menjadi penghuninya.
Desaku memang indah dan permai. Penduduknya juga ramah tamah.
Maka, jika anda melakukan perjalanan jauhd an sampai di desaku, silahkan saja mampir, pasti semuaanya baik!
Negeri ini sedang goncang. Pemerintah sedang dilandah kegelisahan akibat banyaknya pimpinan yang terbunuh dalam sebuah insiden yang selanjutnya dinamakan G30S/PKI. AKu dilahirkan di jaman tersebut. Maka salah satu alasan mengapa namaku paling belakang menggunakan kata Ni adalah untuk mengenang Jenderal Achmad Yani.
Saat usiaku tujuh tahun, saat itu aku juga diukur dengan cara memegang daun telinga kiri dengan tangan kanan, aku masuk ke sekolah dasar di Desa gembongan tercinta. Aku termasuk anak yang mungil saat itu. Tubuhku kecil tidak sebagaimana teman-temanku lainnya, maklum aku anak ke enam dari tujuh bersaudara sehingga kebutuhan makan jelas dapat kita bayangkan. Tetapi hal tersebut tidak menjadikan penghalang bagi kami untuk mengembangkan diri, kemampuan dan keterampilan. Maka, kami bertujuh semuanya tetap bersekolah waLaupun dengan kondisi ekonomi yang serba kurang. Rata-rata saat tersebut kondisi masyarakat memang sangat memprihatinkan, sehingga banyak anak yang tidak dapat melanjutkan sekolah/pendidikan hanya karena ketiadaan biaya untuk hal tersebut. Banyak orangtua yang lebih mengutamakan isi perut daripada pendidikan anak-anaknya, apalagi anak mereka rata-rata cukup banyak, lebih dari empat orang anak setia keluarga!
Sekolah dasar kutempuh selama enam tahun setengah, enam tahun setengah sebab pada saat tersebut ada kebijakan dari menteri pendidikan untk memperpanjang waktu belajar hingga tahaun pelajaran berakhir pada bulan juli, hingga sekarang. Sebelumnya sekolah berakhir pada bulan desember sehingga setiap tahun baru, maka berarti tahun sekolah baru.
Sekolah di desa sendiri membeirkan aku banyak kebahagiaan, apalagi desa Gembongan memang termasuk desa yang asri banget. Alamnya begitu indah. Pepohonannya banyak dan rindang. Tidak heran jika banyak burung yang menjadi penghuninya.
Desaku memang indah dan permai. Penduduknya juga ramah tamah.
Maka, jika anda melakukan perjalanan jauhd an sampai di desaku, silahkan saja mampir, pasti semuaanya baik!
Rabu, 03 September 2008
Gembongan Desa Penuh Kekeluargaan

Konsep dasar terbentuknya negeri besar kita adalah kerja sama antar personal yang terjalin penuh kesadaran dan tanpa ada paksaan dari siapapun. Apapun yang dilakukan merupakan kesadaran untuk mengembangkan pola kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil dan makmur.
Begitu juga ketika, kami harus memperbaiki mushola yang ada di wilayah RW VIII Rt 31 Desa Gembongan ku tercinta. Dengan penuh semangat, kami berikan perhatian maksimal sehingga harapan untuk mempunyai sebuah mushola yang representatif benar-benar bukan sebuah impian semata. Maka, kami-pun menggalang dana pembangunan dari berbagai sumber dan sekarang sudah mulai nampak hasilnya, walau masih belum maksimal. Tetapi kami yakin, jika penggalangan dana terus kami lakukan, maka dalam waktu tidak lama pasti akan segera terbentuk!
Apalagi jika ada yang secara suka rela mengulurkan tangan untuk membantu, wah kami sangat berterima kasih!
Kami tunggu.....
Minggu, 31 Agustus 2008
Rasanya Nyaman di Desa Kelahiran
.jpg)
Duh, rasanya tidak ada hal terbaik dan ternyaman selain berada dalam sebuah lingkungan yang tidak terasing dan sellau penuh dengan kehangatan persaudaraan yang tiada habis.
Sejak kecil aku tinggal di Desa Gembongan yang berada di lingkuang Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto di Jawa Timur ini. Setiap hari selalu ada senyum dan sapa yang terucap sebagai pembuka hari. Rasanya tidak ada yang terlupakan setiap saat aku melangkahkan kakiku. Desaku begitu akrab. BUkan karena aku anak daerah, tetapi kesupelan memang menjadi ciri khas anak kampungku.
Datang saja ke Desaku, maka kalian bakal dapatkan kenyamanan yang begitu khusus.
Datanglah, aku mengundang kalian semua!
Bahkan kemarin untuk memperingati kelahiran negeri tercinta, Desaku tercinta melalui anak-anak masa depannya telah mengadakan berbagai acara, dan puncaknya adalah wayang kulit sebagai kesenian tradisional milik dna kebanaggan bangsa besar ini!
Jumat, 22 Agustus 2008
DesaKu nan Asri
Gembongan adalah sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Jarak dari Ibukota kabupaten sekitar 7 kilometer. Tetapi hal tersbeut tidak menjadi masalah sebab sudah ada jalur transportasi yang cukup memadai.
Gembongan merupakan wilayah di aliran sungai Brantas dan berada di samping sebuah pabrik gula, yaitu PG Gempolkerep yang sukup representatif untuk berkembangan lebih jauh.
Jika anda tanpa sadar melakukan perjalan dan tiba di desaku ini, silahkan mampir saja. Penduduknya termasuk ramah tamah dan suka sekali menolong sesama, apalagi mereka yang berada pada posisi perjalanan panjang.
Gembongan merupakan wilayah di aliran sungai Brantas dan berada di samping sebuah pabrik gula, yaitu PG Gempolkerep yang sukup representatif untuk berkembangan lebih jauh.
Jika anda tanpa sadar melakukan perjalan dan tiba di desaku ini, silahkan mampir saja. Penduduknya termasuk ramah tamah dan suka sekali menolong sesama, apalagi mereka yang berada pada posisi perjalanan panjang.
Langganan:
Komentar (Atom)
